Artikel Utama:

  • Ibadah Haji adalah Tradisi Kaum Penyembah Berhala Arab Pra-Islam

    Nama bulan ketika umat Muslim menunaikan ibadah haji telah diketahui sebelum agama Islam ada. Sama halnya dengan ihram (“berpantang dari melakukan hubungan seksual dan berburu”), berjalan di padang Arafa, melakukan tawaf (mengelilingi Kabah dan Batu Hitam Hajar Aswad) dan mencium Batu Hitam itu; semua itu sudah dipraktikkan oleh orang orang pagan jauh sebelum kedatangan Islam. Demikian juga nama Allah (dari kata ‘al’ ‘Illah’) yang disembah oleh umat Islam, adalah nama Ilah yang sama yang juga disembah oleh orang-orang Arab pagan pra-Islam. Nama ini muncul secara diam-diam dalam Quran tanpa pernah diperkenalkan oleh Allah atau Muhammad. Itulah sebabnya tak seorang Muslim pun yang tahu di surah mana nama Allah ini pertama kali diperkenalkan/muncul. Ketika Islam datang, agama ini hanya mengulang ritual-ritual dan tradisi-tradisi yang biasa dipraktikkan oleh orang-orang Arab yang menyembah berhala.
  • Bagaimana Muhammad Menggampangkan Tiket Masuk Surga

    Surat Al Fatihah telah diserukan 17 kali setiap hari oleh Muslim kepada Allah dalam 5 kali shalat-wajibnya. Intinya adalah memuji Allah dan memohonkan petunjuk untuk menemukan “Jalan yang lurus”, jalan yang bukan seperti jalan-jalannya orang kafir, yang telah disesati oleh setan atau yang dimurkai oleh Allah. Itu terdapat pada ayat ke 6 dan 7 dari total 7 ayat Al Fatihah. Tampaknya seruan semacam ini sangat baik dan rohani, tetapi sesungguhnya ia adalah doa yang teramat aneh tak masuk akal, kontradiktif dan mubazir. KENAPA? Pertama, dengan seruan yang berulang-ulang memintakan “jalan yang lurus” itu berarti Muslim masih perlu dan terus-terusan mencari jalan tersebut setiap saat dari setiap harinya yang berjalan. Jalan yang lurus sepertinya belum tersedia dan harus dimohonkan. Akan tetapi bukankah wahyu dan petunjuk Allah sudah diturunkan sempurna, dan selesai ditutup dengan turunnya surat Quran yang terakhir pada surat at-Taubah? Jikalau itu adalah jalan yang LURUS, semestinya Allah tidak mempersulit siapapun untuk menemukannya secara ready dan terbuka, dan bukannya malah misterius yang harus terus dicarikan orang perorang.
  • Aturan Emas Dalam Islam

    Permasalahan dengan pengajaran-pengajaran baik Muhammad adalah, bahwa semuanya hanya untuk orang-orang Muslim. Ketika hadith berkata, “Tidak seorangpun dari kamu benar-benar beriman hingga ia menginginkan untuk saudaranya apa yang diingingkannya untuk dirinya”, itu berbicara mengenai saudaranya seiman. Persaudaraan dalam Islam tidak menjangkau semua orang. Quran (9:23) menyatakan bahwa orang-orang beriman tidak boleh menjadikan ayah dan saudara-saudara mereka sebagai teman dan pelindung (aulia) jika mereka mengasihi Ketidaksetiaan melebihi Islam. Faktanya ada banyak ayat yang menganjurkan agar orang Muslim membunuh orang-orang tidak beriman dan bersikap keras kepada mereka. Ini adalah contoh yang jelas bahwa Islam tidak didasarkan pada Aturan Emas, yaitu: Sura (48:29): “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” Ini adalah definisi sempurna untuk fasisme.
  • Donasi Untuk Allah Membersihkan Nurani

    Allah mewajibkan semua orang Muslim yang beriman untuk memenuhi kewajiban finansial mereka, yang telah ditetapkan dalam Qur’an dan dalam hukum Syariah (Sura 2:254, 264, 267, 271, dll). Orang yang pernah menentang Muhammad dan kemudian ingin memeluk Islam dapat membuktikan ketulusannya dengan memberikan donasi. Allah akan menerima pertobatannya, jika kontribusinya itu memadai. Bahkan orang yang berpura-pura dan orang yang munafik diterima dengan hangat segera setelah mereka membayar! Mereka dapat mengharapkan pengampunan dari Allah atas dosa-dosa mereka, jika jumlah donasi mereka cukup besar (Sura 9:103). Musuh yang telah dikalahkan akan menjadi teman, segera setelah ia sholat dan membayar zakat (Sura 9:5, 11).
  • Tuhan Menegor Bagaimana Caramu Berpuasa

    Apa yang disebut puasa dalam Islam sesungguhnya (pada hakekatnya) bukan puasa sama sekali, melainkan PEMINDAHAN JAM MAKAN! Muslim yang berpuasa bukan kelaparan karena tidak makan, melainkan menggeser jam makan-minumnya dari pagi-petang menjadi petang-subuh! Kualitas dan kuantitas makannya Muslim yang berpuasa juga tidak terpengaruh samasekali. Porsi seksnya juga tidak ditiadakan, melainkan hanya diatur “carry-over” kepada jam-jam yang berbeda dari biasanya! Malahan kalau mau jujur, kualitas dan kuantitas makan-minum diwaktu puasa malahan jauh dipertinggi dan diperpuaskan melebihi waktu-waktu selainnya. Seorang Muslim yang berkata “Saya berpuasa 30 hari penuh” akan ditangkap oleh orang-orang awam non-Muslim, khususnya Kristen, sebagai berpuasa 30 hari 30 malam tanpa makan minum sedikitpun (total abstinence)! Padahal ia hanya berpuasa 30 pagi-petang dan berbuka puasa 30 malam berturut-turut! Makannya tidak melarut hilang ditelan waktu, melainkan dibelanjakan ke jeda yang lain.
  • 9 Fakta Mengapa Puasa Ramadhan Hanyalah Akal-Akalan Muhammad Belaka

    Puasa Ramadhan sesungguhnya bukan puasa yang dikenal dan dipraktikkan para nabi sebelumnya. Ia bukan puasa yang memantang atau mengurangi nafsu lahiriah (pantang makan-minum dan sex dll) untuk keseluruhan tenggang waktu, melainkan semata-mata “memindahkan jam makan dan sex,” dari pagi-sore menjadi sore-subuh selama bulan tersebut. Volume makan-minum dan kualitasnya juga tidak disita, dipantangi atau dikurangi -- malahan cenderung sebaliknya karena sering lebih tinggi melampiaskan nafsu makan-minum ketimbang yang dilakukan dihari-hari/bulan biasanya.
  • TIRULAH PUASA NABI: Kalau-kalau Itu Puasa Asli-Sorgawi

    Muhammad yang buta-puasa dikala itu justru merasa “ketinggalan kereta” dalam berpuasa. Maka konsep puasa Islamikpun muncul dari tiruan puasa Ashura kaum pagan yang tidak disertai dengan pen-detail-an ritualnya. Maka kita bertanya apakah puasa yang diserukan Muhammad itu sama dengan puasa umat yang ditirunya? Nama puasa boleh sama, oke Ashura, tetapi apa makna, motivasi, bentuk dan isi puasa tersebut sama dalam praktek dan ritualnya? Dan apakah Muhammad sudah menyadari hal tersebut dalam seruannya yang dadakan itu?